Setelah menjalani tes tertulis seleksi beasiswa Monbukagakusho 2015 kemarin tanggal 16 Juni di UI Depok, tes selanjutnya adalah wawancara. Wawancara dibagi ke dalam beberapa hari sesuai bidang keilmuan. Saya terjadwal wawancara hari Jum’at (27/6) di Kedubes Jepang, Thamrin. Dalam masa-masa persiapan itu, saya juga sebenarnya masih menunggu hasil seleksi beasiswa lain yaitu LPDP. Tanggal 23 malam, waktu saya lagi main ke kosan temen dan iseng-iseng cerita LPDP sambil buka web-nya. Ternyata Alhamdulillah saya nama saya “Mohammad Fadhillah” ada di salah satu penerima beasiswa LPDP Master Luar Negeri.

Besoknya, saya dan temen, Masrukhin, ngadep pembimbing skripsi, sambil ngasih kabar gembira ini. Beliau juga turut senang sambil langsung nodong saya dengan pertanyaan “nanti klo mau ke University of Florida tinggal disampaikan ke Prof. kemarin bahwa kamu sudah lulus dan punya beasiswa”. Saya cerita bahwa saya juga mau ikut wawancara Monbukagakusho tanggal 27 nanti. Beliau langsung berpendapat “Yasudah, monbusho dibatalkan saja, kan sudah diterima di LPDP. Jadi, kamu tidak menghalangi atau mempersempit kesempatan orang (yang mungkin belum dapet beasiswa)”. Saya belum kepikiran sampai situ. Mungkin ada yang hanya mengharapkan satu beasiswa ini saja. Dan memang itu sepertinya pas dengan hati nuran saya.. Saya sampaikan ke orang tua dan mereka juga berpendapat yang sama. Awalnya saya juga sempat ragu karena sepertinya masih belum percaya banget bahwa saya dapet beasiswa LPDP. Setelah diskusi panjang lebar dengan teman saya, Masrukhin, akhirnya saya yakin dengan LPDP dan menetapkan pilihan untuk memilih LPDP.

Lolos banyak beasiswa juga bukan berarti gagah-gagahan bahwa kita mampu, pinter, berkualitas dsb tapi ada sisi etika yang harus dipikirkan dibalik itu. Perkara “nanti kan bisa milih mana yang paling baik”, kalau pertimbangannya ini maka saya sudah yakin LPDP juga termasuk beasiswa yang cukup memadai. Kurang lebih sama elitnya dengan Monbukagakusho (atau malah lebih). Monbusho adalah beasiswa yang sudah saya idam-idamkan sejak masih tingkat 4 kuliah (2013) sampai setelah lulus (2014) hehe. Oh ya, ada satu informasi menarik yang perlu saya sampaikan, Beasiswa monbusho ini tidak ada kuota pasti tiap tahunnya, tapi pihak MEXT (pemerintah Jepang) punya standar nilai yang digunakan untuk menetapkan peserta yang lolos primary screening.

Akhirnya tanggal 26 siang, karena pertimbangan di atas Bismillah saya kirim e-mail pengunduran diri saya ke pihak panitia seleksi. Dan perjalanan mengejar beasiswa Monbukagakusho saya berakhir disini. Mudah-mudahan Allah memberkahi pilihan yang saya tetapkan.

monbu monbu1