Di tengah suasana politik yang menghangat ini, saya sedikit membicarakan isu lain yang juga tidak kalah menarik kita beri perhatian. Untuk itu tulisan ini diberi judul “Saya Indonesia, Saya makan sayur dan buah cukup”, sedikit dari modifikasi slogan yang sempat ngtren beberapa waktu lalu. Jika melihat data yang dipublikasi dari berbagai lembaga serta trennya, Indonesia termasuk ke dalam negara dengan konsumsi sayur dan buah rendah. Beberapa data misalnya yang bisa kita jadikan acuan yaitu data survei nasional BPS tahun 2016 yang menyebutkan rata-rata konsumsi sayur dan buah nasional hanya 173 g saja. Hal ini jauh lebih kecil dari angka kecukupan gizi yang direkomendasikan yaitu 400 g perkapita perhari oleh WHO dan juga Kementerian Kesehatan Indonesia. Hal yang mencengangkan lainnya adalah angka konsumsi tersebut mengalami tren penurunan sejak 5 tahun terakhir yaitu 3,5 persen untuk buah dan 5,3 persen untuk sayur.

Data konsumsi buah dan sayur per kapita sehari tingkat Provinsi di Indonesia (BPS 2016)

Melihat angka ini tentu saya terlebih dahulu berkaca dengan kondisi diri sendiri. Saya lahir dan besar di kultur masyarakat yang sehari-harinya banyak mengkonsumsi protein hewani terutama hasil laut. Di daerah saya, Belitung, bercocok tanam sayur dan buah bukan aktivitas yang umum, kecuali berkebun lada. Oleh sebab itu semasa kecil saya sangat suka sekali ikan dan berbagai jenis tangkapan laut lain sebagai lauk bersantap. Kalau orang Indonesia belum makan tanpa nasi, maka dulu seperti belum makan kalau belum ada ikan, pastinya juga nasi. Konsumsi sayur hanya pelengkap, tidak selalu harus ada. Pola makan seperti ini akhirnya melekat dan terbawa sampai saat ini. Ketika saya akhirnya tahu tentang pentingnya sayur dan buah, saya mulai dengan sadar mencari cara agar bisa minimal mulai merutinkan konsumsi sayur dan buah setiap harinya. Berikut beberapa langkah yang saya lakukan untuk memperbaiki konsumsi buah dan sayur saya sehari-hari :
1. Mulailah dengan alasan yang kuat, Mengapa mengkonsumsi sayur dan buah itu penting ? Jika tidak dilakukan dengan pemahaman yang baik, maka mungkin semangat untuk konsisten menerapkan langkah selanjutnya akan cepat surut
2. Temukan menu berbasis sayur yang kita sukai atau sedikit disukai. Usahakan untuk menyelipkannya di antara menu harian. Misalnya seperti saya, di antara menu sayuran lain saya paling suka pecel bukan pecel lele. Nah, saat itulah saya bisa banyak makan sayur dibanding makan dengan menu lainnya.
3. Buat makanan olahan berbasis sayur. Mungkin setelah diolah dengan berbagai citabrasa baru kita bisa makan sayur lebih banyak, menu kreatif bisa jadi solusinya. Saat ini banyak dikembangkan menu berbasis vegetarian namun tampilannya layaknya menu normal lainnya, bisa berbentuk pizza, kebab, mie dan lainnya. Untuk buah biasanya jika bosan dikonsumsi langsung bisa dikreasikan dengan membuat jus atau smoothies.
4. Setelah kita menemukan beberapa menu yang sudah pas di lidah, masukkan ke menu mingguan dengan variasi yang diinginkan. Mulailah untuk jadi kebiasaan.

Nah mungkin langsung muncul pertanyaan, apa mungkin kita hidup tanpa makan sayur atau makan daging ? Mereka yang hidup tanpa makan daging atau pangan hewani (vegetarian) sebenarnya bisa. Pun sebaliknya. Ada suatu suku Inuit di Kanada bagian utara yang hidup di daerah salju yang sangat sulit untuk bercocok tanam seperti sayur-sayuran, sehingga makanan utamanya adalah pangan hewani. Ini soal keseimbangan dan nutrisi tertentu yang kita peroleh dari makanan. Vegan misalnya cendrung rentan kekurangan vitamin B12, zat besi, zinc, dan kalsium. Sementara itu, tanpa diet sayur, kita juga akan kekurangan asupan serat dan karbohidrat. Nah, dengan memiliki sumber makanan beragam, maka nutrisi kita akan mudah terpenuhi. Siap untuk makan sayur dan buah cukup ?!!

#gobion2018#cappanahmerah#generasimakansayurdanbuah