Pernahkah menerima berita yang aneh dan membuat mengernyitkan dahi dari salah satu grup WhatsApp Anda ? Berita yang saya maksud adalah hoax yang entah mengapa jadi sangat massive akhir-akhir ini. Memang hoax bisa beragam topik, namun untuk topik kesehatan penyebarannya juga cukup sering 207 kasus dari 1000 berita hoax tahun 2016-2017¹. Saya juga punya pengalaman yang sama karena kadang info hoax kesehatan juga berseliweran bahkan di grup WA keluarga.

  • Hoax dan kenapa kita ikut menyebarkannya ?

Apa sebenarnya yang membuat orang mudah percaya dan kemudian menyebarkan info hoax tersebut ? Saya sendiri penasaran sebetulnya. Setelah saya melakukan beberapa riset kecil-kecilan, termasuk membaca beberapa artikel ilmiah tentang hoax, saya berpendapat penyebaran hoax salah satunya di kesehatan disebabkan hal berikut :

1. Beritanya mengandung hal yang baru

Ini salah satu faktor utama penebaran hoax marak terjadi. Ketika membaca sebuah pesan yang baru masuk ke smartphone kita dan menemukan sesuatu yang baru, unik, serta tidak pernah diketahui sebelumnya, kita cendrung akan tertarik dengan hal tersebut. Terlebih jika hal tersebut dekat dan related dengan keseharian kita misalnya, sebuah pesan masuk mengatakan “air merek A mengandung mineral yang dapat mencegah penuaan dini. Telah terbukti secara ilmiah dan sudah dikonsumsi di dunia. Ayo mulai beralih untuk mengkonsumsi air ini dsb”. Air merupakan hal yang dekat dengan kehidupan manusia bukan ? Tubuh manusia terdiri dari 70% air dan kita dianjurkan minum 8 gelas sehari atau setara 2 liter. Selain itu, isu penuaan dini juga akan menarik bagi pembaca dengan rerata usia 35-45 tahun karena terasa dekat dengan mereka. Berikut contoh hoax tentang Vaksin untuk mencegah kanker serviks dan diberikan pada anak-anak. Apa yang Anda pikirkan ketika menerima pesan semacam ini ?

Hoax Kesehatan (Sumber : Twitter Kementerian Kesehatan 2017)

2. Faktor Emosional

Seperti yang dilaporkan banyak hasil riset, emosi seseorang dapat mempengaruhi kemampuan reasoning-nya. Kemampuan reasoning adalah kemampuan logis untuk menganalisis dan menilai suatu hal salah atau benar serta memecahkan suatu permasalahan. Ketika kita ‘tersentuh’ dengan pesan hoax karena ada hal yang membuat kita emosional misalnya khawatir dengan kesehatan anak perempuan kita (pada kasus di atas), kemampuan reasoning kita akan melemah. Padahal kita bisa mempertanyakan dulu siapa yang mengatakan demikian ? Apa bukti yang mendukung klaim tersebut ? Dari mana tautan atau sumber berita itu dibagikan? dsb. Seorang penulis bidang Psikologi persuasif terkenal di Amerika Serikat, Prof. Robert Cialdini menulis buku tentang “Influence : The psychology of persuasion”. Salah satu poin yang ia tulis adalah ketika Ia keluar dari sebuah stasiun kereta, ada anak pramuka yang sedang menawarkan sesuatu ke orang yang lewat dan akhirnya anak itu menghampirinya. Anak pramuka itu menawarkan untuk membeli tiket kegiatan amal yang mereka buat. Prof. kemudian menolak. Kalau Anda keberatan untuk datang ke acara amal kami, bagaimana kalau cukup dengan berdonasi membeli coklat yang Ia tawarkan ?. Hasilnya Prof tersebut membeli coklat padahal dia tidak suka coklat sama sekali. Kenapa ? karena Ia penolakan untuk tawaran pertama anak tersebut sudah memunculkan sikap emosional pada dirinya yaitu iba. Oleh karena itu, ia membeli coklat yang ditawarkan meskipun ia tidak suka dengan hal tersebut.

Alasan HOAX menyebar lebih cepat dari fakta

3. Rendahnya literasi kesehatan dan literasi media

Rendahnya literasi kesehatan dan media juga turut andil ikut menyuburkan penyebaran hoax kesehatan di Indonesia. Wanita, sebagai penguna WhatsApp terbanyak di Indonesia juga rentan menjadi korban hoax karena rendahnya literasi media dan cendrung mengedepankan sikap emosional terhadap suatu pesan. Ada penelitian menarik yang mendukung hal ini : Ada sebuah penelitian tentang tingkat literasi kesehatan antara mahasiswa fakultas kesehatan dan non-kesehatan di UI tahun 2017. Dari sebanyak 436 responden 436, hasil riset tersebut menunjukkan tingkat literasi kesehatan mahasiswa fakultas kesehatan lebih tinggi namun tidak mencapai angka yang memuaskan (<80%). Ada pengaruh yang signifikan antara level literasi dengan frekuensi mengakses berita kesehatan secara online. Responden yang memiliki literasi kesehatan yang baik cendrung menggunakan referensi dapat dipercaya (reliable) sebagai sumber informasinya.²

4. Too easy to share

Faktor lainnya adalah karena saking mudahnya mengirimkan suatu pesan dari satu orang ke orang lainnya bahkan dari satu grup ke grup lainnya. Hal ini terkonfirmasi dengan tindakan WhatsApp yang membatasi menu untuk meneruskan pesan (forward)³ ke hanya 20 kontak saja dalam satu waktu. Sebelumnya satu orang dapat meneruskan pesan ke 250 kontak. Selain itu WA juga akan melabeli pesan terusan dan juga tautan yang dicurigai sebagai SPAM atau Hoax.

Nah, setelah mengetahui 4 faktor yang mendukung penyebaran hoax sudah saatnya kita mulai berhati-hati dan jeli menilai suatu pesan yang masuk ke smartphone dan percakapan kita setiap hari. Di lain sisi, saat ini sudah banyak sumber-sumber yang terpercaya dan mudah diakses di media sosial seperti aplikasi SehatQ dengan artikel kesehatan yang ringan namun mudah untuk dipahami. SehatQ adalah aplikasi kesehatan yang terpadu mulai dari booking dokter, chat dokter, dan artikel kesehatan yang lengkap dan terpercaya.

  • Berikut 3 keunggulan aplikasi SehatQ :

1. Menyajikan info kesehatan lengkap dan terpercaya

SehatQ, meskipun Apps kesehatan pendatang baru, kini telah memiliki 2000 lebih artikel kesehatan trending yang bisa ditemukan dengan mudah dengan pencarian di Google seperti salah satunya artikel tentang “Alzheimer pada usia lanjut” menempati urutan ke-3 saat ini di Google.

Kepopuleran Artikel SehatQ di pencarian Google

2. Mudah Tanya Dokter (Chat Dokter Gratis)

SehatQ sampai saat ini masih memberikan fasilitas chat dokter Gratis lho. Jadi jika kamu kebingungan dengan kondisi kesehatan dan informasi kesehatan yang didapat bisa langsung chat dokter di SehatQ dengan melakukan pendaftaran akun terlebih dahulu.

Saya mencoba fasilitas chat dokter gratis ini, yang perlu dilakukan hanya klik menu chat dokter kemudian masukkan identitas seperti nama, tanggal lahir, berat badan dan riwayat penyakit (jik ada) setelah kita bisa langsung mulai konsultasi. Apps langsung menemukan dokter tanpa menunggu lama. Waktu itu kebetulan saya berkonsultasi dengan dr. Muhammad Anugerah seputar karies pada gigi anak saya, si Maryam. Meskipun kami sudah mengusahakan untuk menggosok gigi dengan pasta gigi mengandung Hap namun tetap kariesnya tidak hilang. Nah, saya menanyakan bagaimana untuk menghilangkan karies dan mencegah gigi tersebut berlubang untuk anak dengan usia <2 tahun ?

Jawabannya yang saya dapat adalah, proses karies pada gigi anak sering terjadi karena memang gigi susu itu rapuh. Cukup rawat dengan gosok gigi (tanpa perlu scaling) dan jika giginya rapuh dan cobat akan lebih baik. Begitu jawaban dr. Muhammad Anugerah.

CHAT DOKTER1.jpg
Cuplikan Tanya Dokter GRATIS di SehatQ

3. Platform booking dokter terlengkap di Indonesia

Dengan 6979 direktori dokter umum dan spesialis yang ada di sehatQ, aplikasi ini digadang-gadang jadi platform booking dokter terlengkap saat ini. Fasilitas booking dokter ini memudahkan pasien yang hendak berkonsultasi dan berobat ke dokter tanpa perlu mengantri berjam-jam.

Penutup

Jadi, jangan ragu untuk mengunduh dan menggunakan aplikasi SehatQ untuk memperkaya pengetahuan kita tentang kesehatan dan juga menanyakan permasalahan kesehatan pada dokter ahlinya. Ingat hoax politik bisa memecah belang bangsa, hoax kesehatan bisa menghilangkan nyawa. STOP penyebaran hoax sampai di kamu !

 

 

 

Referensi :

  1. Tim riset Tirto.id (https://tirto.id/hoaks-kesehatan-bikin-penyakit-semakin-runyam-edLY) diakses pada 9 Desember 2019
  2. Pipit Lestari & Hanny Handiyani. 2017. The higher level of health literacy among health students compared with non-health students. Depok : UI Proc. HealthMed
  3. https://www.theguardian.com/technology/2019/jan/21/whatsapp-limits-message-forwarding-fight-fake-news diakses pada 11 Desember 2019