Maju dan mundurnya suatu bangsa, bersatu dan berpecahnya suatu negara, aktor utamanya adalah manusianya. Rasa-rasanya tidak akan mungkin suatu negara akan maju tanpa sumberdaya manusia yang unggul yang menjadi penopang sendi-sendinya. Lain halnya dengan sumber daya alam, tentu sudah suratan taksir jika tidak semua negara kaya dengan sumber daya alamnya. Namun, kaya dari segi sumber daya alam pun tidak jadi penentu sebuah negara dapat berkembang menjadi negara adidaya. Bahkan dari fakta-fakta yang ada justru sebaliknya. Hampir 80% dari negara yang memiliki sumber daya alam berupa tambang, gas, minyak bumi di dunia tampak gagal dalam mengelola kekayaan berharga tersebut. Salah satu contoh yang terburuk adalah Negara Eritrea, di Afrika diantara 66 negara lain yang juga digolongkan sebagai negara yang “lemah, rentan, dan gagal” dalam mengelola sumber daya alamnya oleh Natural Resource Governance Institute (NRGI), New York. Indonesia,bersama negara middle income lainnya beruntungnya tidak masuk dalam rangking terburuk dan masih digolongkan dalam kategori baik. Namun, tentu kita bertanya mengapa ada negara dengan sumber daya alam yang minimal namun mampu tumbuh melejit meninggalkan negara-negara “kaya’ tadi ? Jepang misalnya, setelah dihantam perang dunia ke-2, hanya butuh sekitar 10 tahun recovery kemudian mereka berlari kencang dengan economic miracle-nya sampai menjadi negara dengan ekonomi terbesar setelah Amerika sampai awal 1990an. Jepang bukanlah menjadi salah satu negara ‘kaya’ sumber daya alam seperti kita. Contoh lainnya dalah Singapura, Taiwan, Korea Selatan dan banyak lainnya.

KEKAYAAN SESUNGGUHNYA

Jika kita analisis lebih lanjut, kekayaan sesungguhnya bagi suatu negara adalah sumber daya manusianya (SDM) atau sumber daya manusia terbaharukan istilah BJ Habibie. Dengan SDM yang berkualitas, kesempitan dapat berubah menjadi kesempatan, tantangan dapat diterjemahkan menjadi peluang. Hal inilah yang juga sedang dihadapi oleh Indonesia saat ini. Faktor SDM akan jadi penentu bagi nasib Indonesia ke depan, apakah akan menjadi negara yang terjebak dalam middle income atau keluar sebagai pemenang menjadi negara dengan ekonomi terkuat di dunia. Bagaimanakah SDM yang dibutuhkan untuk mengubah cita-cita tersebut menjadi kenyataan ?. Tahun 1977 seorang sastrawan Indonesia, Mochtar lubis, pernah mengungkapkan opininya tentang karakter manusia Indonesia. Karakter yang disebutkannya adalah munafik atau hipokrit, enggan dan segan bertanggung jawab, berperilaku feodal, percaya takhayul, artistik, dan berwatak lemah. Hampir semua yang diungkapkannya adalah sifat negatif. Setelah 42 tahun kita tentu objektif menilai apakah opini tersebut relevan atau bualan ? Menarik untuk kita jadikan bahan evaluasi internal dan merancang rencana untuk masa depan.

Slide1.JPG

DUA KARAKTER UNGGUL

Dalam tulisan ini saya ingin sedikit berpendapat mengenai karakter yang WAJIB dimiliki oleh manusia Indonesia ke depan, atau kalau saat ini diistilahkan dengan generasi millenials, generasi Z atau bisa juga Kidz Zaman Now dan seterusnya. Karakter yang saya usulkan ada dua saja karena saya anggap merangkum atau berefek kepada karakter pendukung lainnya. Karakter WAJIB yang pertama adalah passionate. Passion merupakan kecendrungan seseorang terhadap sesuatu yang dia sukai dan dia anggap penting sehingga dia menginvestasikan waktu dan energinya untuk hal tersebut. Mengapa karakter passionate ini saya anggap penting untuk manusia Indonesia yang unggul ? Di masa depan, di era yang kita sebut era distruptif dan era yang belum ada dalam bayangan kita dimana persaingan sudah semakin nyata dan dekat, sikap passionate akan memunculkan SDM yang berkualitas di berbagai bidang. Orang-orang yang passionate adalah orang-orang yang terobsesi dengan apa yang mereka kerjakan dan pikirannya dicurahhabiskan untuk passion tersebut. Bisa kita bayangkan jika SDM yang passionate ini memiliki bidang keahlian strategis ke depan. Hair-harinya adalah obsesi untuk menjadi lebih baik dan semakin baik. Menghadirkan inovasi sebagai ‘nyawa’ bagi pertumbuhan organisasi, unit kerja dan perusahaannya. Selain itu, karakter passionate ini seiring sejalan dengan karakter lain yaitu kerja keras. Orang yang memiliki passion dalam pekerjaannya akan lebih mudah untuk bekerja keras sampai yang ia inginkan tercapai. Apakah orang yang tidak suka pekerjaannya akan rela bekerja keras ? Bisa juga iya, namun apakah output yang dihasilkan akan sama ? Tentu saja tidak.

Dalam satu konsep Jepang, ada istilah yang semakin populer digunakan untuk lebih spesifik membicarakan mengenai “alasan kenapa kita ada” atau IKIGAI. Konsep inilah yang disebut-sebut bisa membuat orang bahagia dan panjang umur. Dari gambar di bawah ini, IKIGAI adalah irisan dari apa yang kita sukai, apa yang kita ahli, apa yang dunia butuhkan dan apa yang kita bisa dibayar dengan melakukannya. IKIGAI mungkin mirip dengan konsep membuat hobi sebagai pekerjaan tapi lebih kompleks. IKIGAI juga mirip dengan konsep passionate yang saya utarakan di atas pada kasus seseorang telah memiliki pekerjaan dan ia bekerja dengan penuh dedikasi dan passionate mengejakan yang menjadi tugasnya.

Slide2.JPG

Karakter lain yang juga harus dimiliki oleh SDM Indonesia ke depan adalah Integritas. Setelah kita mempunyai SDM yang passionate dan pekerja keras di berbagai bidang, hal lain yang juga penting adalah integritas. Ibarat dua sisi mata uang, kedua karakter ini tidak akan bisa lepas satu sama lain untuk menjadi manusia yang unggul. Sukses dalam bidang keahlian atau pekerjaan karena Anda passionate saja tidak memiliki daya dorong kuat jika karakater integritas tidak ada. Integritas yang saya maksudkan disini adalah memiliki moral akhlak yang baik. Berapa banyak orang terbaik di bidangnya namun berakhir menjadi seorang yang tercela akibat tindakan yang merugikan orang lain dan negara, misalnya korupsi. Ini juga yang menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi kita sebagai bangsa. Moral dan akhlak yang baik adalah ibarat pagar bagi seseorang dalam bekerja pada bidang keahliannya. Apakah kita suka saat melihat seorang petinggi di sebuah perusahaan yang walaupun berhasil dalam pekerjaannya namun tidak memiliki moral dan akhlak dalam tindak tanduknya sehari-hari ? Istilah attitude before knowledge masih relevan namun yang kita butuhkan saat ini adalah attitude and knowledge at the same time. Dari sisi praktik korupsi Indeks Persepsi Korupsi di Indonesia masih berada di ranking 37 (ranking 0 paling korup dan 100 paling bersih) walaupun setiap tahunnya masih merangkak lebih baik. Pendidikan anti korupsi dan moral akhlak sedianya menjadi kurikulum yang wajib bagi manusia Indonesia saat ini.

IPK_Indonesia_rev.jpg
Indeks Persepsi Korupsi dari masa ke mas (Sumber : Tempo)

Dua karakter inilah yang menjadi pedoman untuk membangun manusia Indonesia yang unggul ke depannya. Namun, tentu pembangunan SDM tidaklah instan seperti pembangunan infrastruktur sekalipun megaproyek. Perlu waktu dan perlu campur tangan banyak pihak termasuk pendidik, masyarakat, dan pemerintah. Pengarahan dan pemetaan minat dan bakat salah satunya menjadi alat yang penting untuk mencari bidang-bidang apa yang bisa ditekuni oleh seseorang dan ia passionate di bidang tersebut. Moral dan akhlak adalah juga hasil pendidikan yang panjang dari keluarga, lingkungan, dan agama. Melihat era di depan mata yang begitu tak terprediksi, pembangunan SDM unggul haruslah menjadi prioritas utama. Kita pernah punya anak bangsa terbaik salah satunya BJ Habibie dengan segala prestasi dan kontribusi nyata beliau di dunia maupun di Indonesia. Kita hanya punya satu dan Beliau telah pergi. Namun, kita WAJIB punya 1000 bahkan 1 juta lagi ke depan orang yang passionate dan memiliki integritas seperti Beliau.

Slide3.JPG

TIMING YANG TEPAT

Di saat banyak negara maju khawatir dengan angkatan kerja yang makin berkurang karena pertumbuhan penduduk yang melambat bahkan negatif, Indonesia saat ini berada pada saat yang tepat. Dengan prediksi kondisi demografi yang baik, dimana pertumbuhan penduduk yang positif dan jumlah angkatan kerja yang banyak, kuantitas SDM Indonesia berada pada titik yang aman. Jika kita lihat Jepang, walaupun sudah menjadi negara dengan ekonomi terkuat di dunia, kini Jepang mengalami masalah pertumbuhan penduduk yang negatif. Kian tahun penduduknya malah makin berkurang dan sebagian besar sudah menuju ke aging society. Hal ini direspon pemerintah Jepang dengan memberi insentif Ibu yang ingin bekerja dan melonggarkan keran masuknya pekerja asing ke Jepang. Jika tidak, Jepang akan kekurangan tenaga kerja dalam waktu dekat. Kesempatan emas ini harus diambil oleh Indonesia agar yang berlimpah tidak hanya kuantitas SDM namun kualitas dan karakternya juga ikut meningkat.

demog.jpg

Dalam hal ini Kadin Indonesia sudah mulai mengkampanyekan pentingnya SDM yang Unggul untuk Indonesia yang lebih produktif ke depan. Hal ini dilakukan dengan menyelenggarakan kompetisi Blog yang ikut menyebarkan kesadaran akan pentingnya SDM Unggul bagi kemajuan bangsa. Semakin banyak masyarakat yang sadar harapannya kita juga semakin serius untuk mempersiapkan hal ini.