Tanggal 10 Januari 2019, saya tetiba menerima E-mail dari Prof. Sonomoto (selanjutnya saya sebut Sensei). Beliau mengirim ke e-mail saya yang lama yang dulu sempat masuk dalam mailing list Lab. Bikou (Microbial Technology). Bunyinya kira-kira hanya ucapan :

Dear Fadhillah,

We wish you a very Happy New Year !

We hope seeing you again.

Best regards,

Saya membacanya sambil teringat budaya berkirim nengajou (kartu ucapan tahun baru) memang masih jadi budaya sampai saat ini di Jepang. Saya saja dapat kiriman dari Zendo Sensei (assistant Prof.) sewaktu dulu masih di Lab. Padahal sehari-hari ketemu di lab. tapi tetep saja Beliau mengirimnya lewat Pak Pos. Biar dapet feel-nya kali ya. Kalau dikasih langsung beda kesannya.

img_6269
Kartu pos akhir tahun dari Zendo-Sensei (dilingkari)

Di akhir E-mail Beliau menginfokan bahwa Lab. kami yang dulunya berada di Building 4 Kampus Hakozaki kini sudah pindah ke Ito Campus yang jaraknya 1-1.5 jam dari kampus lama. Lab. Bikou resmi pindah pada 24 Agustus 2018. Hmm, berarti hampir tepat 1 tahun setelah saya lulus dulu. Kini hampir semua fakultas Kyushu University sudah pindah ke kampus baru terpadu di Itoshima. Hmm, Natsukashii naa.

(Beliau juga menyelipkan foto berdua dengan Mrs. Kaori, istrinya di bagian bawah e-mail)

Saya balas “Terima kasih untuk emailnya, saya berharap yang baik-baik untuk Beliau dan keluarganya sembari saya berterima kasih karena pernah diajar dihajar oleh Beliau selama 2 tahun selama menempuh pendidikan Master saya. Saya juga memperkenalkan anak perempuan saya “Maryam” karena di akhir masa studi Ajeng pernah bertemu Beliau. Di akhir email saya sampaikan, mohon kabari saya jika suatu saat ada rencana untuk berkunjung ke Indonesia”.

Awalnya jujur saya hanya basa basi karena saya tahu Sensei sudah memasuki masa pensiun jadi akan jarang traveling seperti dulu. Email selanjutnya membuat saya kaget.

Dear Fadhillah,

It is a nice photo of your family ! I will give a talk as guest speaker on ACLAB 10 attached. Is your home near Yogyakarta ? If so, can I visit you ?

Best regards,

Beliau ternyata punya rencana ke Indonesia tanggal 29-31 Agustus tepatnya ke Yogyakarta karena diminta untuk jadi pembicara di ACLAB adalah Asia Conference on Lactic Acid Bacteria. Setelah tahu tentang rencana ini saya pun langsung mengirim email ke rekan se-Lab dulu.

Setelah menanyakan lebih detil tentang waktu dan akomodasi Beliau saya pun merancang rencana juga untuk ke sana, tentunya bersama Istri dan si kecil Maryam. Oke, akhirnya rencana pun rampung. Karena waktu yang tidak terlalu banyak padahal pengennya dapet (banyak silaturahim) saya memutuskan untuk mengajak Beliau sightseeing ke Kraton Ngajogjakarta Hadiningrat dan Masjid Kauman setelah itu makan siang di Oemah Jowo Restaurant. Pemilihan tempat ini sebenarnya ada alasan hehe. Dulu sewaktu saya dan beberapa kawan muslim pelajar asing di Bikou diundang ke rumah Beliau di kota Munakata, kami diajak ke Munakata Shrine, kuil Shinto terbesar disitu. Nah ini berarti giliran saya ya nagajak ke Masjid Kauman, xixixi.

Berangkat ke Jogja

Kami berangkat dengan pesawat dari Soekarno Hatta. Ini sebenarnya agak PR juga sih karena Purwakarta ke Soetta itu lumayan ngeselin kadang. Tapi, kalau pakai bis malam kasian juga si kecil. Kami bermalam di Hotel Burza Mantrijeron, beberapa langkah dari Masjid yang tersohor Masjid Jogokariyan. Sekalian kan, kapan lagi melihat Masjid yang saldo kasnya selalu nol dan jadi percontohan manajemen Masjid yang TOP di Indonesia. Karena adek perempuan, Ibna Amalia, juga sedang studi di Jogja sekalian juga diminta jadi Navigator. Emang sekaliannya banyak ya hehehe.

Saya memberanikan diri nyupir di Jogja yang menjadi surga motor. Agak kikuk juga sih, secara sudah lama tidak nyupir lagi. Saya pilih mobil matic aja lah biar nggak keliatan kagok-nya saat pindah gigi kalau pake yang manual. Malu kan ya, pas lagi jalan pindah giginya nggak lancar. Sewa 12 jam cuma 250 ribu, lumayan lah. Bisa dipake buat silaturahim ke temen juga sekalian.

Kami menjemput Beliau dan istrinya di Hotel UGM. Saya masuk di lobi hotel dan dengan Ibna dan Ajeng serta si kecil Maryam. Sensei sempat heran. Beliau bertanya “Siapa ini ?”, “Ini adik saya, dan ini istri saya” saya jawab. Barulah saya tahu kenapa mereka menatap heran. Mereka mengira saya punya dua istri. WOW. Hahaha. Ini gegara si Ibna ikutan dan sekilas nggak mirip sama saya. Setelah itu barulah obrolan kami cair. Kami ngobrol sebentar karena ada beberapa orang disana termasuk sesama bimbingan Beliau, mahasiwa Doktor dulu, Ibu Hanies (BPPT). Saya cukup terkesan karena Beliau memakai baju Batik yang saya kasih sewaktu pertama datang dulu. Warnanya merah, lengan pendek, corak agak anak muda tapi saya tidak tahu jenisnya. Beliau nanya “Sekarang tinggal dimana ?” saya jawab “Di Purwakarta” sebelah sini sambil nunjuk peta yang dibawa Mrs Kaori. “Jauh juga ya” imbuhnya. Setelah ngobrol kami langsung naik mobil dan jalan.

Destinasi Wisata yang tidak sesuai harapan

Well, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, destinasi kami adalah Kraton dan Masjid Kauman yang tepat di sebelahnya. Ini sebenarnya pegalaman pertama saya ke kraton, masuk sampai dalam maksudnya. Sedikit kecewa karena tidak serapi yang saya bayangkan. Para Bapak-Bapak yang menawarkan jasa becak untuk keliling-keliling, para pedagang souvenir yang ngemper di depan pintu masuk, trotoar yang rusak, dan suasana jalanan ‘khas’ Indonesia. Oh ya, Sensei punya cidera di salah satu kakinya dan tidak bisa berjalan normal seperti biasa. Ia pernah kecelakaan tahun 2013 silam. Saya jadi merasakan bagaimana rasanya jika banyak fasilitas umum dan destinasi wisata yang tidak ramah difabel. Tidak untuk membandingkan di Jepang sih, tapi saya pernah ke Kastil Kokura, mereka punya kursi elevator yang memungkinkan orang berkebutuhan khusus naik sampai lantai tertinggi. Mudah-mudahan ke depan kita bisa memperhatikan hal ini ya.

kraton
Di dalam area keraton Jogja

Kesan setelah melihat-lihat Keraton Jogja adalah seperti kurang terpelihara. Kondisinya agak mengecewakan padahal halamannya luas dan banyak wisatawan lokal dan asing yang datang lho. Galerinya juga terbatas dan kotor karena debu yang terbawa dari sepatu pegunjung. Di dalam galeri kami sempat terkekeh-kekeh melihat jumlah istri Sultan Hamengkubuwono yang banyak buangeet. Bukan yang sekarang sih. Setelah dari keraton, kami lanjut ke Masjid Kauman. Saya dan yang lain sholat, Sensei dan istrinya juga ikut masuk dan melihat di dalam. Kawasan Masjid ini juga nampak kurang resik padahal asik juga jika Masjid dijadikan tempat wisata rohani dan budaya mirip seperti kuil-kuil di Jepang ya. Dengan arsitektur yang unik pasti juga memikat. Selepas itu kami berfoto di depan Masjid dan menuju restoran untuk bersantap siang. Sekitar jam 2 kami menuju Hotel kembali, namun Sensei meminta mampir di penjual buah untuk membeli buah tropis Indonesia. “Wah murah sekali” katanya pas belanja di toko buah pinggir jalan dekat Hotel. Di dalam perjalanan sebenarnya saya bertanya banyak hal, mungkin nanti saya akan bahas di tulisan lain.

kauman
Foto di depan Masjid Kauman (foto yang paling bagus haha)

wisma ugm

Foto di Hotel UGM (blur sih, nggak tau kenapa)

Penutup

Saya hanya merasa pernah begitu bersyukur dibantu oleh Beliau selama di Jepang dulu, dengan segala keramahannya dan juga pengertiannya. Mudah-mudahan jamuan singkat kami bisa berkesan buat Beliau dan Istri. Kalau orang lain pernah berbuat baik terhadap kita balaslah dengan hal yang lebih baik atau minimal sama, begitu yang saya pahami.