Mengapa bahagia butuh definisi ? Pertama kali saya menanyakan ini bukan kepada orang lain tapi pada diri saya sendiri. Akhir-akhir ini, anggaplah sejak setahun yang lalu “Kok rasanya kawan-kawan saya yang dulu sama tengilnya pas zaman SMA dan Kuliah kelihatan seneng banget ya di Instastory-nya dan post facebooknya ?” Mereka bahagia banget dengan hidupnya, itu dalam benak saya. Di zaman medsos ini, tak habis-habis rasanya sharing info dari lingkaran pertemanan kita tentang kerjaan mereka, liburan, makanan yang mereka santap, hang out, outfit, dan lainnya. Banjir akan informasi tersebut tenyata intimidatif bagi saya. Akhirnya saya cendrung menilai, apa yang dibagikan di sosmed itu adalah gambaran riil hidup kawan-kawan saya. Bahagia sekali rasanya. Bagaimana dengan saya ?. Di lain sisi, hal itu dikompori dengan masalah-masalah personal yang saya hadapi. Baik dari lingkungan kerja, sosial dan keluarga. Akhirnya timbul lah pertanyaan, kok saya nggak sebahagia mereka ya ? Setelah saya merenung sejenak di gua ‘cave’ pria ala mahluk planet Mars, tenyata di titik inilah kita wajib punya definisi bahagia yang custom, personal, pribadi dan sejenisnya. Intinya definisi yang kita cari dan buat sendiri, bukan berasal dari orang lain. Dengan kita punya pengertian bahagia kita sendiri, kita bisa bahagia tanpa perlu dilihat oleh orang lain dan membandingkan diri dengan level orang lain. Bagaimana memulai untuk bahagia, berikut yang saya lakukan :


  • Sederhanakan definisi bahagia – Make it simple

Semakin sulit definisi bahagia kita, semakin sulit kita bahagia. Jika bahagia menurut kita adalah ketika punya barang yang serba pribadi, mobil pribadi, rumah pribadi, perusahaan pribadi, maka selama belum memiliki itu kita belum bahagia, benar begitu ? Apa yakin ingin begitu ? Jika mobil adalah salah satu faktor kebahagiaan sementara data menyebutkan usia pembeli mobil pertama di Indonesia tahun 2017 adalah 40.5 tahun, berapa tahun yang akan kita biarkan tak bahagia sampai punya mobil pertama ?. Sederhanakanlah, agar kita bisa bahagia secepat dan sesering mungkin. Menikah apakah membuat bahagia ? Tentu. Banyak kawan yang terlihat bahagia belum merasakan indahnya menikah, hihi. Punya anak apakah faktor bahagia ? Jelas juga. Banyak pasangan yang belum dikarunia menimang belahan jiwanya sampai usia tertentu. Punya kerjaan ? Iya juga, 5 dari 100 orang angkatan kerja masih belum mendapatkan pekerjaan di Indonesia. Kondisi keluarga dan orang yang kita sayangi sehat apakah bisa membuat kita bahagia ? Tentu saja kan. Definisi-definisi itu yang membuat kita lebih mudah dan lebih cepat untuk bahagia.

Smile (Sumber : Web Jewish Boston)

  • Bersyukurlah – Be grateful

Rasanya bersyukur adalah nilai kebaikan yang universal. Nah ini ada artikel menarik, ketika saya googling tentang topik bahagia. Ada sebuah tulisan yang menarik. Judulnya Are Olimpic Bronze medalist happier than silver medalist ? Jawabannya adalah YES !! Peraih medali perak cendrung membandingkan dirinya dengan peraih medali emas sedangkan peraih medali perunggu membandingkan dirinya dengan yang tidak dapat medali. “Ah, hampir saja nggak naik podium” mungkin dalam benak mereka yang meraih perunggu. “Huh, padahal tinggal dikit lagi nih, harusnya bisa nih dapet emas” kata yang mendapat medali perak, mungkin. Hasilnya, meski medali perak lebih baik dari perunggu, namun tidak membuat dia lebih bahagia karena dia membandingkan dengan yang lebih tinggi dan tidak tercapai olehnya. Oh ya, ini penelitian ilmiah lho ya, meski memang sudah lama sekali yaitu pada ajang Olympic 1992 dan the 1994 Empire State Games. Saya terhenyak sejenak memikirkan apa benar demikian ? Rasa-rasanya memang benar sih dari pengalaman saya. Gimana menurut Anda ?. Bersyukurlah dan berbahagialah. Kata kawan saya di Kitabisa.com, cukup buka apps kitabisa untuk membuat kita bersyukur karena banyak sekali orang di luar sana yang kondisinya jauh di bawah kita. So, be grateful for what you have achieved. Kalau diibaratkan orang yang tidak bersyukur seperti orang yang kurang. Karena dia merasa kurang, Ia pun bergeming saat diminta membantu orang lain padahal banyak orang yang kondisi lebih rendah darinya.

Sumber : Misson Capital

  • Jangan membandingkan dengan orang lain – Don’t compare yourself to others

Lho kenapa nggak boleh membandingkan kita dengan orang lain ? Bukankah kita start di level yang sama ? Kan kita bisa melihat kita on the good track or not jika kita bisa membandingkan dengan kawan kita ?. Tidak 100% salah sih, tapi tidak lantas benar juga. Yang dikhawatirkan adalah bias saat kita membandingkan dengan orang lain karena kita membandingkan kelebihan seseorang yang kita tahu dari luar dengan kelemahan dan masalah kita. Tentu hasilnya akan jomplang sekali. Dia sudah jadi Manager, gajinya 2 digit, punya mobil pribadi, rumah, dan lainnya tapi kita tidak tahu masalah yang dihadapi oleh kawan kita tersebut. Everyone fights their own battle, setiap orang punya masalah sendiri hanya saja manusia memang suka memperlihatkan hal positif-nya kepada orang lain di jaman sosmed seperti ini. Membandingkan tanpa informasi yang lengkap membuat bias dan salah mengambil kesimpulan.


  • Maksimalkan ikhtiar, rendahkan harapan,– Work more, Expect less

Kalau kita menggantung harapan setinggi langit, namun gayung tak bersambut maka jatuhnya akan membuat kita terasa sakit dan terisak. Namun jika kita tidak terlalu berharap pada suatu hal namun tetap mengusahakan yang terbaik maka hasil yang minimal pun dapat kita syukuri. Saya dulu pernah mati-matian belajar satu mata kuliah yang sulit waktu awal masa kuliah di IPB. Mati-matian itu artinya sampai niat ke perpus nyari textbook yang digunakan oleh dosen untuk direview ulang bersama referensi lain. Berapa nilai yang saya dapat ? Hanya 60an kalau tidak salah tapi senangnya mengalahkan dapat 90 di mata kuliah lain. Dari situ saya belajar bahwa kalau kita sudah berusaha semaksimal mungkin dengan seluruh kemampuan kita, kita akan lebih mudah menerima hasilnya. Tidak ada penyesalan lagi. Kalau masih tidak sesuai harapa berarti di luar kuasa kita. Pun sama halnya dengan menulis ini, saya harus meniatkan hanya menyalurkan isi kepala saja. Kalau berharap akan dibaca banyak orang nanti malah kecewa haha. Ya iyalah, siapa saya.


Ada beberapa poin lain sebenarnya, mungkin di tulisan berikutnya. Saya khawatir terlalu panjang. Di tulisan ini saya ingin berbagi empat poin di atas saja, menyederhanakan bahagia, bersyukur, jangan membandingkan dengan orang lain, dan memaksimalkan ikhtiar dan merendahkan harapan. Semoga kita bisa bahagia menjalani hidup yang singkat ini. Kalau tidak mulai bahagia sekarang, kapan lagi ?. Sebagai info terakhir, Indeks Kebahagiaan Indonesia kini terus merosot dari tahun ke tahun, dari peringkat 74 tahun 2015 ke peringkat 96 tahun 2018. Apakah kita salah satu dari yang merasa bahagia atau tidak ?

Salam

Mohammad Fadhillah