Tepat hari ini Maryam 2 Tahun, saya bilang ke dia semalam “Nak, makasih sudah nemenin Ayah Ibu 2 tahun ini ya”. Entah dia mengerti atau tidak tapi yang jelas kami bersyukur akan kehadiran maryam di tengah-tengah kami. Momen ini mengingatkan kembali di malam persalinan, begitu Allah mudahkan. Maryam ini 100% anak BPJS kesehatan, karena kami dulu sepakat ingin lahiran di RS dengan BPJS. Walaupun Istri jadi agak ‘trauma’ dengan pelayanannya. Saya akhirnya juga merasa bersalah tidak mempertimbangkan hal tersebut. Baiknya memang pilihlah tempat persalinan yang membuat Istri Anda nyaman dan aman, karena situasi yang akan dihadapinya benar-benar tidak nyaman.

En Caul Birth

Alhamdulillah, Allah begitu mudahkan, Maryam lahir en caul, keluar dari jalan lahir dalam keadaan masih utuh dalam kantung ketuban. Saya kaget, tidak sesuai dengan bayangan awal. Dengan proses yang sangat cepat Maryam lahir utuh, tubuhnya masih biru karena dalam kantung, kemudian dipecahkan dan barulah tubuhnya mulai berangsur memerah dan menangis. Maryam istimewa layaknya setiap anak kita, istimewanya maryam Ia membuat kami dan bidan yang membantu kelahiran melihat kelahiran yang langka 1:90000 di dunia. Belum tentu selama tugas seorang bidan bisa menemui jenis kelahiran seperti ini. Terima kasih ya Allah, terima kasih Nak.

Tentang Nama

Saya dan istri punya beberapa kandidat nama, Husna, Hana, Amira, Arisa dll. Pertimbangannya adalah namanya baik, mudah diucapkan di berbagai bahasa, dan unik. Mudah diucapkan di berbagai bahasa ini murni karena pengalaman pribadi saya dan Ajeng yang namanya susah disebut di bahasa asing misal Jepang, Korea, Chinese dll. Saya membayangkan dunia Maryam nanti lebih luas dan luwes dibandingkan yang Ayah Ibunya pernah rasakan. Ia akan jadi Global Citizen yang berinteraksi dengan orang dari berbagai bahasa. Hana nama yang bagus, dalam bahasa Jepang, Arab, Korea artinya ada dan bagus. Tapi, saat ini ketika sedang mencari nama yang baik, saya membaca satu ayat di Al-Qur’an yang membulatkan saya memilih nama Maryam,
وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
”Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.” (Ali-Imran 36)

Indah sekali ungkapan Imran yang Allah abadikan di Al-Qur’an. Bismillah, kami pilih Maryam. Ialah nama yang akan disebut sepanjang dunia ini ada karena termaktub dalam Al-Qur’an. Ialah nama yang fasih diucapkan di mungkin hampir seluruh bahasa, dengan variasinya Maria, Mariam, Maryam, dan lainnya. Bagaimana dua nama belakangnya, satu kata dari bahasa Ibrani sudah terpilih, saya ingin menggabungkan dengan dua bahasa lain, Arab dan Sansekerta. Awalnya ingin Maryam Nabila Putri karena mewakili bahasa-bahasa tersebut. Ternyata setelah pertimbangan saya ambil Nabila-nya, dengan arti terhormat, terpandang, mulia. Mirip dengan bahasa Inggrisnya Nobel, mungkin dari akar kata yang sama. Untuk nama terakhir, Saya ambil dari lakob/gelar Sayyidah Fatimah binti Rasulullah ﷺ, Az-zahra’ (الزهراء), artinya bercahaya, berkilauan. Jadilah Maryam Nabila Az-zahra’.

Ayah Ibu
Apa panggilan untuk orang tua yang kami tetapkan ? Ada banyak kan Bapak-Umak, Bapa-Ibu, Ayah-Ibu, Papa-Mama, Papi-Mami, Ummi-Abi, Abah-Umma, Otou-san Okaasan, dan lainnya. Saya aliran Ayah Ibu, istri Papa Mama. Saya pilih Ayah Ibu meski banyak yang ngira kami akan pilih Ummi Abi. Saya pilih Ayah ibu karena kesannya, menurut saya sederhana (humble) dan Indonesia banget. Kenapa bukan Ummi-Abi ? Ini selera saja ya, tapi kalau saya ditanya alasannya, Ummi Abi baik cuma ketika dipakai oleh orang Indonesia terkesan aneh, Ummi artinya Ibuku sedang Abi, Ayahku. “Aku mau ke Ummi” misalnya, artinya masih oke. Tapi jika, “Siapa nama Abi-mu!” Abi kan artinya Ayahku kok masih ditambah -mu lagi. Dalam sebuah hadits Nabawi, seorang pemuda bertanya kepada Nabi :
مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ
(siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” Beliau menjawab: “Ibumu.” dst)

Ummuka, bukan ummika. Kata dasarnya adalah أُم tapi harakat akhir di م aka senantiasa berubah sesuai dengan إعراب atau status dia di kalimat. Ini murni saya pahami dari secuil bahasa Arab yang baru saya pelajari. Mohon koreksinya jika salah. Oleh karena itu dari awal, kami perkenalkan panggilan untuk orang tua bagi Maryam adalah Ayah dan Ibu.

Izinkan kami terus belajar

Nak, seiring kamu tumbuh besar izinkan kami juga untuk terus belajar. Kami tidak sempurna, tapi kami ingin selalu berusaha yang terbaik untukmu. Setiap orang tua pasti menginginkan dan mengusahakan anaknya agar lebih baik dari mereka. Kami pun demikian nak. Ini bukan tugas mudah tapi kami bermohon Allah mudahkan. Saya teringat pesan salah seorang dosen, “kalau kita tidak menyiapkan orang pengganti yang lebih baik dari kita maka kita gagal”. Dunia ini tidak semakin baik dalam banyak hal, perlu generasi yang lebih hebat ke depannya. Ayah dan Ibu titip amanah itu kamu buat masa depan ya. #kayakbener

Nak, ada porsi kami dan ada porsi kamu. Porsi kami adalah menyiapakan sedari kecil, bahkan hal yang kamu tidak tahu itu akan jadi penting. Asupan nutrisi, kesehatan gigi, stimulus-stimulus positif, pengasuhan, pendidikan karakter, biaya untuk pendidikan, dan lainnya. Kami tahu karena kami sudah merasakan dan menjalani. Biar kami berikhtiar maksimal buatmu, tapi mohon maaf jika sampai batas maksimal kami itu belum sempurna buatmu nanti. Kadang yang lepas dari kita belum tentu baik buat kita, bisa sebaliknya. Tapi mengusahakan yang kita anggap baik dengan cara yang baik, itu tawakkul Nak.

Ayah dan Ibu akan berusaha melihat dan mengarahkan minat dan bakatmu Nak. Hidup berharga terlalu singkat untuk mengejakan yang tidak kita senangi. Pun jika tidak, senangilah apa yang kau kerjakan nanti.

Melalui Maryam kami belajar, setiap hari belajar. Belajar bertingkah baik, karena kamu akan meniru. Belajar sabar karena tingkahmu yang lucu menguji sabar. Memang anak tidak senantiasi bisa menuruti orang tuanya, tapi tidak pernah gagal meniru orang tuanya. Kami banyak terkejut, sebagai orang tua baru. Kata yang sekali dua kami ucapkan langsung menempel di memorimu.

Maryam, terima kasih ya Nak. Kamu beruntung punya Ibu yang sayang dan penyabar seperti Ibu Ajeng. Kepada Allah kami bersyukur dan mohon ampun.

Dari Ayah yang menyayangimu

Purwakarta, 20 Maret 2020