Akhir-akhir ini saya aktif di LinkedIn dan melihat banyak rekan-rekan yang sedang berusaha mencari kerja. Itu membuat saya flashback ke beberapa tahun lalu saat saya ada di posisi yang sama.Sepulang dari S2 saya sempatkan untuk beberapa bulan di kampung halaman, Belitung, sebelum mulai menjadi jobseeker. Kalau saat ini melihat pengalaman dulu rasanya bersyukur karena saya tidak menyerah. Wajar saja, ijazah dari LN tentu tidak serta merta jadi tiket masuk bekerja dimanapun meski memang bagi beberapa hal itu punya nilai tambah tersendiri. Berikut beberapa tempat yang sempat memanggil saya sampai interview :

  1. Perusahaan vaksin A di Jawa Barat, saya datang dari tahap psikotes kemudian tes bahasa inggris wawancara HRD dan User. Saya datang dua kali kantor mereka. Datang pertama tiket kereta dibiayai sekali jalan. Yang kedua modal sendiri. Di tahap dua untuk wawancara user hanya ada dua orang. Dari gestur tubuh dan respon pewawancara sepertinya oke nih. Tapi setelah itu, tidak ada berita sama sekali. Sampai sekarang. Segitunya ya, hidup memang keras wkwkk.
  2. Universitas Swasta di Bandung. Saya datang dari Bogor untuk wawancara dan microteaching yang saat itu ada lowongan dosen. Semuanya berjalan baik-baik saja. Setelah wawancara itu setahun kemudian baru dihubungi kembali alasannya baru dapat izin untuk follow up dari manajemennya.
  3. Perusahaan riset salah satu tanaman perkebunan. Saya apply via JS. Dulu sepertinya idaman banget ini. Saat saya di Belitung dipanggil. Wah semangat, saya sampaikan akan hadir. Saya bela-belain dateng ke Bogor dari Belitung, silakan hitung sendiri biayanya. Sampai di kantornya disampaikan oleh user, yang terbuka lowongan lain selain yang saya daftar, sengaja baru diberi tahu saat itu. Bayangkan, semua yang diinterview merasa kecewa. Datang bukan untuk lowongan yang mereka apply. Ada omongan juga bahwa “Ini sebenarnya pekerjaan S1 tapi karena standar kami harus merekrut S2. Syarat minimumnya gitu”. Saya tidak tahu apakah itu salah satu tes mental bagi kandidat melamar di tempat itu atau bukan. Jika ya, saya merasa saja kultur di tempat itu tidak akan pas dengan saya. Setelah itu, saya coret perusahaan ini. Bukan cuma perusahaan yang bisa nyoret kandidat ya. Hehe
  4. Distributor alat lab di Jakarta. Saya diterima dengan baik, hanya saja untuk jangka panjang saya mikir ulang. Saya tipikal yang tidak kuat commuting jauh, habis tenaga dan waktu rasanya. Akhirnya cuma bertahan satu bulan. Masuk baik-baik, saya resign juga baik-baik. Sampai saat ini masih kontak-kontakan dan diskusi dengan rekan kerja dulu. Baik-baik semua.
  5. Perusahaan vaksin B. Ini impian sih dulunya. Dulu sewaktu selesai S1 saya coba apply, lolos seleksi berkas dan diundang administrasi. Beasiswa S2 sudah ditangan, saya pikir-pikir saya lanjut dulu toh mungkin nanti terbuka lebar buat gabung dengan kompetensi lebih tinggi. Ternyata ini strategi yang tidak tepat. Malah tidak pernah ada rekrutmen untuk S2 dari saat saya lulus sampai saat ini. Setelah lulus S2 saya coba apply beberapa kali (untuk posisi S1) tidak pernah tembus. Peminatnya memang banyak sepertinya. Saya selalu pantengin lowongan di medsosnya. Pas ada saya coba, gagal lagi hehe. Entah kenapa akun saya sering eror. Apa ada faktor lain ya ? Kalau kompetensi berani diadu lah wkwk. Tapi ya sudahlah. Sewaktu ada lowongan walaupun kontrak saya datang. Setelah wawancara selesai, dua kali saya ditelpon sayangnya skemanya tidak cocok jadi saya sampaikan “saya berminat, tapi skemanya tidak cocok dengan kondisi saya sekarang”. Saya balas emailnya dengan baik.
  6. Perusahaan pertanian di LN. Saya hampir yakin ini akan ditolak tapi toh saya dapat belajar bikin cover letter dan melihat respon mereka. Itu cukup. Benar sih, beberapa hari setelah apply online, datang email yang menyatakan “Anda tidak masuk dalam peserta yang akan diundang ke tahapan wawancara, kami sudah menemukan kandidat yang lebih cocok dengan kriteria yang kami inginkan. Terima kasih untuk ketertarikan Anda pada perusahaan kami”. Never mind, at least I know they decided not to hire me.
  7. Start-up. “Ikan kecil di kolam besar, ikam besar di kolam kecil”. Filosofi anak-anak startup banget kan itu. Artinya kurang lebih di perusahaan yang besar kita hanya bagian kecil saja (tidak terlihat), di perusahaan kecil kita seolah-olah besar (bisa jadi punya jabatan tinggi bahkan rangkap banyak langsung). Ini salah satu motivasinya pengen nyoba ke start-up. Tapi, kualifikasi dan ekspektasi saya nggak cocok dan posisi yang ada dan ditawarkan. Dua kali saya berkunjung, lumayan juga habisnya, tapi ya sudahlah. Saya dapat insight baru tentang ‘arti pekerjaan’ setelah itu. Salah satunya prinsip “Jangan jadi karyawan, jadilah bos meskipun cuma usaha kecil”. Ada benarnya tapi ada salahnya. Pandai-pandai menimbang kemampuan diri sih menurut saya. Dua-duanya mulia. Saya heran juga ada yang buat dua hal yang tidak bertentangan jadi seolah-olah berseberangan. Toh karyawan juga membantu bos menghasilkan profit untuk usahanya kan ? Pelajaran hidup memang mahal.
  8. Perusahaan farmasi. Salah satu market leader untuk obat ethical. Saya lihat info di LinkedIn dan saya direkomendasikan oleh rekan saya. Kemudian saya dikontak HRDnya, saya datang waktu itu. Setelah diwawancara lowongan yang awalnya jadi target saya sudah terisi, yang ada hanya lowongan dengan kualifikasi yang sama tapi pekerjaan rutin. Saya kecewa dan ternyata tidak bisa disembunyikan. User yang wawancara menilai “Kompetensi kamu lebih dari ini, saya khawatir kamu nggak akan betah malah jika kami terima karena pekerjaannya menurut kamu bisa jadi tidak menantang”. Pewawancara seperti mengkopi paste apa yang ada di kepala saya tanpa perlu saya utarakan. Selesai. Tidak ada kontak sama sekali dari HR yang sebelumnya dua kali nelponin. Padahal di akhir wawancara bilang, maksimal dua minggu lagi kami kabari hasilnya ya.

Selain itu, saya mengirim ke beberapa perusahaan, apply di portal pencari kerja saya lupa. Banyak yang sepertinya tidak sampai karena tidak ada balasan.

Pelajaran untuk saya pribadi :

  1. Terima kasih, untuk saya sendiri karena tidak menyerah dan putus asa.
  2. Yang kita anggap baik belum tentu baik sebetulnya untuk kita. Berprasangka baik saja pada takdir
  3. Hargai dan syukuri pekerjaan karena tidak mudah mendapatkannya apalagi saat ini

Untuk rekan HR dan User :

  1. Anggaplah orang yang mengirimkan CV dan hadir ke kantor sebagai talent yang akan membuat perusahaan Anda lebih besar dan maju ke depannya. Tolong jangan anggap seperti orang yang meminta-minta pekerjaan. Mereka punya dignity, sama seperti Anda yang punya reputasi dan nama baik yang ingin tidak ingin tercoreng bukan ?
  2. Saya sangat menghargai jika ada feedback dari Anda walaupun itu hanya email template tentang status lamarannya. Terutama jika tidak diterima atau dipending sampai waktu tertentu. Kok berat sekali kelihatannya memberi kabar ke pelamar tentang hal itu ya ? Apakah ini bukan kultur HR kita ? Kalau perlu dibuatkan email template untuk ini, saya bersedia. Silakan kontak saja.
  3. Bisakah memudahkan prosesnya, kalau bisa wawancara online sebagai skrining awal kenapa tidak ? Berapa biaya yang bisa dihemat oleh kandidat. Pak/Buk, mereka pelamar kerja. Uangnya mungkin terbatas. Uang yang dipakai untuk datang ke tempat Anda mungkin hasil pinjaman atau kebutuhan lainnya.

Untuk rekan-rekan Job seeker :

  1. Saya yakin Anda orang yang tidak mudah putus asa. Berusahalah dan iringi dengan doa sampai kesempatan itu datang
  2. Tidak kalah penting juga, selalu upgrade kompetensi di bidang softskill dan hardskill Anda. Saya dulu merasa perlu mengupgrade softskill saya tentang personal branding dan negosiasi. Saya manfaatkan kursus gratis untuk itu. Ilmu praktis yang berguna.
  3. Perluas jejaring Anda dan jalin silaturahim dengan kerabat dan rekan Anda. Bisa jadi mereka bisa merekomendasikan Anda ke suatu lowongan. Maksimalkan media apapun untuk membangun branding dan ‘menjual’ diri Anda misalnya linkedIn

Disclaimer : Saya tidak punya motivasi untuk menjelekkan perusahaan tertentu. Itu murni dari pengalaman saya yang jujur saya tuliskan. Setiap pengalaman itu jadi pelajaran berharga buat saya dan mungkin ada manfaat jika saya tuliskan dan dibaca oleh orang lain.