Kunjungan Mentan dan Bupati Purwakarta ke Ewindo

Cerita awal diterima di Ewindo

Waktu tak terasa berjalan, tiba-tiba sudah 2 tahun lebih merantau di Purwakarta setelah pulang dari Fukuoka akhir 2017 silam. Akhir 2017, sewaktu masih ikhtiar mencari kerja datang sebuah pesan WA dari kawan saya, Masrukhin menginfokan ada lowongan di tempat ia bekerja saat itu, PT. East-West Seed Indonesia (Ewindo). Tidak pikir panjang, saya siapkan lamaran dan CV kemudian dikirim. Selang beberapa lama tidak ada jawaban. Saya juga tidak tahu kenapa. Selang beberapa bulan kemudian sekitar Maret 2017 ketika saya mulai bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta, datang kembali kabar yang sama, lowongan di Ewindo namun di departemen yang berbeda, dulu di Departemen Pemuliaan/ Breeding (sebagai Pre-breeding officer) dan yang terbaru sebagai Molecular Biology Officer di Lab. Bioteknologi. Singkat cerita saya mengajukan lamaran, datang untuk diwawancara (setelah sebelumnya saya minta atur ulang jadwal karena Maryam baru lahir tanggal 20 Maret 2018 di Belitung).

Alhamdulillah 15 Mei 2018 saya diizinkan untuk bergabung di Ewindo dan diterima dengan baik oleh keluarga besar Lab Bioteknologi dan R&D khususnya. Saya masuk di hari yang sama dengan yang saat ini jadi Breeder timun Ewindo, Usamah (Jay). Hari pertama saya masuk kerja itu kebetulan bertepatan dengan Expo Nasional tahunan yang mengundang banyak kalangan mulai dari petani, pemerintah, mitra dll. Saya yang bukan orang pertanian ini (walaupun ngakunya lulus dari IPB hehe), awalnya sama sekali tidak tahu akan seperti apa perusahaan benih. Bahkan saya masih suka ketuker bibit dan benih, seringnya yang harusnya disebut benih malah bibit (masyarakat awam juga banyaknya gitu deh, nyari temen wkwkwk).

Proses pengamatan karakter ketahanan

Mengenal benih dan industri benih sayuran

Setelah saya masuk Ewindo barulah tahu ternyata bisnis benih juga sesuatu yang menjanjikan. Saat ini ukuran pasar benih sayuran di Indonesia mungkin di antara 1.5-2 triliun dengan Ewindo yang jadi pemimpin pasar. Bisnis benih tersebut menopang pasar sayuran (hortikultura) nasional yang bernilai 80 triliun. Wow. Saya ingat beberapa petuah penting Pak Glenn, Managing Director Ewindo, “Kita bisa menikmati fasilitas kantor yang mewah ini adalah karena jasa para petani”. Waktu-waktu saya di Ewindo itulah nilai/value perusahaan yang terus menerus ditanamkan. PETANI. Bagaimana caranya petani bisa sejahtera dan hidupnya bisa lebih baik dengan menggunakan benih berkualitas tinggi dari Ewindo. Saya tidak pungkiri Ewindo sangat concern/perhatian sekali dengan kebutuhan petani utamanya kebutuhan dengan benih sayuran yang unggul. Nilai yang sering ditanamkan adalah Ewindo “Sahabat Petani paling Baik”.

Benih kan ya gitu ? gitu-gitu aja hehe. Benih itu hanya 5-10 % dari biaya produksi tapi siapa yang ingin berjudi menanam berhektar-hektar dengan benih yang asal-asalan. Benih itu membawa bakat istilah yang lebih ilmiahnya materi genetik yang sangat mempengaruhi hasilnya. Penampakan boleh sama tapi hasil antara benih yang baik dan tidak jauuuuh banget. Itulah yang membuat petani umumnya setia dengan satu varietas karena dia sudah bisa mengestimasi jika menanam sekian luasan, berapa ongkosnya, berapa untung yang bisa didapatkan. Sekali lagi bukan hanya benih saja faktor yang penting dalam bertani, tapi benih factor yang krusial dan sangat berpengaruh karena sebaik apapun pemeliharaan termasuk pemupukan akan sia-sia jika memang benih yang digunakan tidak unggul.

Pelajaran dari Industri benih

Selama manusia masih makan, selama itu industri benih masih eksis. Setuju ? bagi saya sampai saat ini saya setuju. Bisa jadi tidak relevan suatu saat tapi sampai 5-10 tahun ke depan masih. Kata kuncinya adalah petani dan lahan pertanian semakin menurut, penduduk dunia makin bertambah usaha intensifikasi pertanian (meningkatkan produksi) pasti juga harus dilakukan, salah satunya dengan benih unggul. Kalau dulu menanam timun 1 hektar bisa 10 ton misalnya, ke depan hasil itu mungkin bisa dicapai dengan 0.5 hektar karena benih timun yang bisa berproduksi dua kali lipat saat ini sudah ada. Tapi, mungkinkah akan ada distrupsi ? bisa jadi. Kalau dilihat tren, sekarang kita bisa makan daging sapi tanpa perlu diambil dari sapi sungguhan, ada perusahaan rintisan yang mengkultur sel hewan sehingga jadi otot dan daging mirip dengan dagin sapi dari 280.400 USD turun menjadi 800 USD dan kini ada yang mengklaim bisa memproduksi daging buatan dengan 112 USD per kilogram. Mungkin suatu saat juga manusia bisa mulai bergeser dari makan yang mementingkan tekstur dan rasa menjadi makan yang mementingkan kandungan dan nutrisi. Bisa jadi semacam pil. Siapa yang tahu kan ?

Daging yang dikultur di Lab (Sumber: VOA America)

Pelajaran lainnya yang saya dapat adalah industri benih cukup rumit. Walaupun produknya terlihat kecil-kecil berupa benih, perjuangan di dalamnya panjang. Proses perakitan varietas yang dibutuhkan petani itu normalnya butuh 3-4 tahun jika plasma nutfahnya dimiliki, misalnya sumber ketahanan terhadap virus kuning di cabe kita sudah punya. Setelah tetua terbentuk, baru kemudian diuji dan dilihat performa dari benih hibrida yang dihasilkan. Jika oke, akan diproduksi massal. Eits, tapi bahaya jika tidak dilakukan dengan prosedur keamanan karena tetua hasil rakitan itu harta karun yang tidak boleh dicuri orang lain. Nah dengan segala teknik ini dilakukan sampai kemudian produksi berhasil dan dilakukan pengecekan kualitas, pengemasan, dan distribusi dan pendampingan ke petani untuk melihat responnya di lapangan. Rumit ya hehe. Luar biasa memang. Saya belajar melihat pekerjaan yang memerlukan ketekunan dan kesungguhan yang panjang jika bekerja dengan pemulia/breeder.

Hal-hal yang akan dirindukan di Ewindo :

  1. Rekan-rekan staf dan karyawan Lab. Biotek yang sudah seperti keluarga saya di Purwakarta. Becandaan nggak jelas, bully-bully yang mengakrabkan tapi kadang jadi marahan haha. Alhamdulillah sudah merasakan 2 kali outing ekstrim ke gunung dan ke pantai ala Biotek. Jozz.
  2. Rekan-rekan R&D yang mulai kenal akrab setelah kerja dan ada proyek bareng. Drama-drama Ricomot sampai OYM yang mengesankan. Pokoknya kalau mau presentasi yang bisa dinikmati banyak orang, konsepnya drama OVJ aja titik. haha
  3. Kadang suka dapet bagian berupa sayur, buah semangka, melon, labu madu, tomat dll pembagian dari Breeder yang habis seleksi. Istri senang, tetangga juga senang dapet bagian.
  4. Makan bareng di kantin Nusantara dengan menu yang bervariasi tiap hari. Ada ikan koi di kolam dekat loket untuk menyimpan tempat bekas makan
  5. Pernah ada salah satu tamu dari Singapura yang terkesan dengan review Ewindo di Google Maps karena tampak seperti taman bunga dan bermanin, area untuk foto-foto bukan seperti perusahaan apalagi pabrik. Keren sih ini. Sewaktu jadi karyawan di Ewindo juga merasa bangga dengan lokasi kerja yang bersih dan indah
  6. Main Badminton di Gym bareng rekan-rekan lab Biotek. Ewindo ada fasilitas Gymnasium yang bisa dipake termasuk 2 meja ping pong dan 2 lapangan badminton.
  7. Ewindo itu lingkungannya non-smoking banget. Yang mau ngerokok harus ke luar lingkungan perusahaan. Bawa rokok dan korek api aja bisa jadi temuan satpam lho. Enak banget buat yang menghindari sapa rokok

Kenapa Resign ?

Dua tahun di Ewindo adalah dua tahun yang penuh dengan belajar untuk saya, belajar tentang bioteknologi dan lebih-lebih tentang pemuliaan. Seperti Research student kalau istilah di Lab Jepang untuk mahasiswa tanpa gelar yang melakukan penelitian lab. kampus. Kalau istilah kawan saya Master by Research karena sama juga, resign setelah 2 tahun bekerja.

Kalau ada teh dan kopi saya memilih teh. Pun sama dengan keputusan untuk resign dari Ewindo. Teh dan kopi itu hanya soal selera saja (tapi memang suka teh karena setiap kali minum kopi bawaannya sakit perut). Memang ada beberapa pertimbangan yang bersifat pribadi namun ya masa perlu dibahas disini wkwkwk.

 

Purwakarta, 13 Agustus 2020

Saat pandemi Covid-19 belum reda dan saat tanah yang gersang tersiram air hujan di bulan Agustus. Perum Fortuna F3